Posts

PELURU YANG DI HARAP

Cerpen Karya Fathan Aulia Rahman Hasan menatap lamat foto ibunya yang kusam. Tak disadarinya air matanya meleleh. Ini hari ketujuh ia dan adiknya Fatimah ditinggal ibunda tercinta. Masih begitu segar dalam benak dan ingatannya ketika sang ibu ditembak oleh junta militer. Masih segar dalam ingatannya jasad ibunya yang tak menentu. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat isi perut ibunya berhamburan keluar. Waktu itu ia menangis meraung-raung. Apalagi Fatimah. Tapi Ustadz Mahmud, guru mengaji mingguan Hasan menguatkanya. Sang Ustadz meyakini Hasan bahwa kematian ibunya tak perlu disesali atau ditangisi. Karena Ibunya tidaklah mati. Hal inilah yang menjadi spirit bagi Hasan dan Fatimah untuk terus bertahan terus di camp demonstan. Baginya, tak ada guna pulang ke rumah. Ayah mereka telah gugur saat revolusi tahun 2011 yang meruntuhkan rezim Mubarak. Jadi, tak ada alasan baginya untuk pulang. Dirumah tidak ada ayah, tidak ada ibu. Tapi, malam ini, kerinduan terhadap kedua orang tua...

TANGISAN PERTAMA MEMBAWA CAHAYA

Cerpen Rudi Al-Farisi Malam yang dingin itu, lutfi masih saja asyik dengan kebiasaan lamanya. Mabuk mabukan, judi dengan ditemani wanita seksi, sudah biasa dalam kehidupannya. Disaat semua orang terlena dengan mimpi mimpi tidurnya, ia malah makin nikmat dengan permainan maksiatnya. Tiba tiba hp nya berdering tanda sms masuk. Sebentar kawan…ucap lutfi. Segera pulang, istrimu sedang dirumah sakit, ia akan melahirkan. Spontan ia terkejut. Lalu bergegas menghidupkan sepeda motornya. Sampai dirumah sakit. Mertuanya langsung menyemprot nya dengan bumbu bumbu ceramah. Ia tak ambil pusing, segera saja ia bertanya kepada dokter tentang keadaan istrinya. Lutfi memang termasuk bandit. Semua orang mengetahuinya. Tetapi ia tidak bisa menghilangkan rasa cintanya pada sang istri yang begitu sabar menghadapi sifat bejatnya. Pernah suatu ketika, ia tertangkap oleh polisi dan dipenjara beberapa bulan. Hanya istrinya yang selalu setia menjenguk dan membawakan makanan ke penjara. Guna me...

NABI PUN TERSENYUM

Karya Akhmad Gufrn Wahid Seumpama segerombolan semut, motor-motor itu berderet sangat rapi menjulur kebelakang hingga hampir menyentuh gapura lima undak di selatan sana. Seperti dengusan lebah, manusia-manusia itu berdialog kesana-kemari tak tentu arah, dari dekat terdengar mendengus, dari jauh pun terdengar sama. Serupa TPU Keramat Jati pada malam Juma’t Kliwon, itulah isi kantong celanaku saat ini: Sepi, Kosong dan Angker. Dari matahari belum menjamah tanah tadi hingga saat ini ketika panasnya menguapkan keringat, ketika sinarnya membiaskan bayangan tubuhku berada tepat di injakan kaki, ketika Adzan Dzuhur menggema dengan gagahnya, aku, belum selembarpun menggenggam rupiah. Zaman ini, rupanya para lelaki telah berada di area mayoritas yang enggan memakai batu akik. Hanya dapat dihitung dengan satu tangan saja. Sisanya, aku haqqul yaqin, pasti anti pakai. Padahal, hukum memakai batu mulia ini hampir sama dengan hukum memelihara jenggot. Itu salah satu sunnah Rosul Muhammad S....

KEAGUNGAN FAJAR CINTA

Cerpen Rudi Al-Farisi Malam yang dingin itu, Galin masih saja asyik memperhatikan monitor computer kerjanya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Memang malam itu ia mendapat giliran kerja malam dari perusahaannya untuk memonitor pengolahan pabrik. Matanya sudah cukup lelah menahan kantuk. tetapi mau gimana lagi. Ia harus tetap fit karena tugas yang dibebankan perusahaan kepadanya. Galin adalah sosok yang rajin, baik ditempat kerja maupun dilingkungan masyarakat. Ia bekerja disebuah perusahaan yang cukup ternama di negeri ini. Karena jiwanya yang bersemangat itu. ia dipercayakan atasannya untuk mengambil alih job suvervisor yang kebetulan sedang kosong. Saat sedang asyik memainkan keyboard computernya, tiba-tiba nada alarm azan shubuh berkumandang di hp nya. Ia tinggalkan sejenak pekerjaan monitoringnya. Bergegas ia berwudhu’ dan menghadap Sang Ilahi. Usai sholat, ia menghirup udara pagi sejenak dari jendela ruang kantornya. Tiba-tiba perasaannya jadi tidak ena...

INDAH PADA WAKTUNYA

Karya Nurbaniah Pagi itu masih berselimut kabut. Di sebuah garasi agen bus lintas jawa, tampak seorang gadis sedang berdiri sendirian, terus memegangi hpnya. Sambil membenahi jilbab hitam dan kemeja berwarna biru lembayungnya, sesekali dia memandangi pintu masuk dan sedikit gelisah. “ mau kemana, dek?”, seorang pria setengah baya menghampirinya dengan niat ingin membantu. “ mau ke tempat teman saya, pak. Ini lagi tunggu dijemput “, gadis itu menjawab sambil tersenyum ramah. Dan pria itupun berlalu. Gadis itu kembali memandangi pintu masuk lalu melihat hpnya yang ternyata sudah mati sejak tadi. Karena itulah dia tampak agak gelisah. Namun dia berusaha untuk terlihat tenang. Duh….mudah-mudahan Ercham membaca sms terakhirku tadi..dan sudah menuju kesini….batinnya dalam hati. Gadis itu bernama Indah. Sangat wajar untuknya merasa sedikit gelisah. Bahkan seharusnya dia jauh lebih gelisah dari itu. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya dia menginjakkan kaki di tempat ini. Tempat ya...

CAHAYA KECIL DI SEPERTIGA MALAM

Cerpen Karya Wiwit Jayanti Penyair itu kode sedang bulan adalah refleksi dari suatu kode, refleksi yang menoreh berkas dengan tautan pensil yang bergoyang. Gerak jemari mengalur mengikuti imajinasi kelana. Menyusuri tiap sudut kehidupan, menerjang semu kearifan sipemilik tahta dunia. Yang memalingkan kesucian demi cinta Pada benda yang meraja. Tertawa berlari dari kewajiban. Bisanya hanya terjerat dalam lelap yang berjalan dalam angan. Ketika refleksi semakin menjadi primadona alam, Adhwa tenggelam dalam muhasabah senja yang berlalu. Cinta-Nya membuatnya berlayar pada telaga kedamaian. Menyiram segumpal merah antara rusuk penuh sesak dan amarah. Balut gundah dalam rangkai tasbih. Kokohkan jiwa dengan seribu kalimat tauhid. Keyakinan bergema takbir dihati insan berkalang cerca. Tak ada yang tahu rasa apa yang dirasa, serinci apapun menjelaskan, karibpun tidakkan bisa merasa. Sujud panjang menyatu cinta, mengucil diri dalam pekatnya. Bahasa jiwa hanya insan dan pemilik-Nya yang p...

TAK SENGAJA (SEBUAH TAKDIR YANG INDAH)

Cerpen Karya Luthfi Hidayati Bertemu dengan nya tanpa disengaja, tanpa aku yang mencarinya ataupun dia yang merencanakannya. Berteman dengannya tanpa disengaja, tanpa aku yang mendahului untuk ada suatu ikatan dengannya ataupun dia yang menginginkannya. Semua yang kulakukan padanya selama ini bukanlah karena perbuatanku yang dibuat – buat agar mendapat simpati darinya karena memang ia adalah temanku, aku pun tak tau apa yang di fikirannya, namun yang ku tau sampai saat waktu itu tidak ada yang special untuk nya. Runtutan ketidak sengajaan ini terjadi lagi – lagi dan lagi. Ku berfikir tiada yang special dari nya, aku dan dirinya pun biasa saja, bahkan waktu jua memberikan jarak nya padaku serta dirinya. Hingga waktu pun mempertemukan kami kembali dalam sebuah ketidak sengajaan yang membuat aku sedikit berarti dalam masa penting nya, ya aku berada pada masa yang tepat untuknya, semoga tepat juga untuk ku. Hingga sampai saat itu masih tiada yang special ku alami, hati ini masih ...