PELURU YANG DI HARAP
Cerpen Karya Fathan Aulia Rahman Hasan menatap lamat foto ibunya yang kusam. Tak disadarinya air matanya meleleh. Ini hari ketujuh ia dan adiknya Fatimah ditinggal ibunda tercinta. Masih begitu segar dalam benak dan ingatannya ketika sang ibu ditembak oleh junta militer. Masih segar dalam ingatannya jasad ibunya yang tak menentu. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat isi perut ibunya berhamburan keluar. Waktu itu ia menangis meraung-raung. Apalagi Fatimah. Tapi Ustadz Mahmud, guru mengaji mingguan Hasan menguatkanya. Sang Ustadz meyakini Hasan bahwa kematian ibunya tak perlu disesali atau ditangisi. Karena Ibunya tidaklah mati. Hal inilah yang menjadi spirit bagi Hasan dan Fatimah untuk terus bertahan terus di camp demonstan. Baginya, tak ada guna pulang ke rumah. Ayah mereka telah gugur saat revolusi tahun 2011 yang meruntuhkan rezim Mubarak. Jadi, tak ada alasan baginya untuk pulang. Dirumah tidak ada ayah, tidak ada ibu. Tapi, malam ini, kerinduan terhadap kedua orang tua...